Thursday, June 3, 2010

Cinta Insani Bukan Jawapannya.

Cinta tak cukup untuk menyatukan dua manusia. Tatkala jalan telah berbeza, tak kan mungkin mereka saling bersama. Namun cahaya keimanan akan mempertemukan kembali yang telah terpisahkan sekian lama.

Tersebutlah kisah tentang putri pemimpin para nabi. Terlahir dari rahim ibundanya, seorang wanita bangan Quraisy, Khadijah bintu Khuwailid bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza bin Qushay Al-Qurasyiyyah radhiallahu ‘anhu, saat ayahnya memasuki usia tiga puluh tahun. Dia bernama Zainab radhiallahu ‘anha bintu Muhammad bin ‘Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semasa hidup ibunya, sang putri yang menawan ini disunting oleh seorang pemuda, Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ bin ‘Abdil ‘Uzza bin ‘Abdisy Syams bin ‘Abdi Manaf bin Qushay Al-Qurasyi namanya. Dia putra Halah bintu Khuwailid, saudari perempuan Khadijah. Ketika itu, Khadijah radhiallahu ‘anha menghadiahkan seuntai kalung untuk pengantin putrinya. Dari pernikahan itu, lahir Umamah dan ‘Ali, dua putra-putri Abul ‘Ash.

Tatkala cahaya Islam merebak, Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka hati Zainab radhiallahu ‘anha untuk menyambutnya. Namun, Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ masih berada di atas agama nenek moyangnya. Dua insan di atas dua jalan yang berbeda…

Orang-orang musyrik pun mendesak Abul ‘Ash untuk menceraikan Zainab, namun Abul ‘Ash dengan tegas menolak mentah-mentah permintaan mereka. Akan tetapi, Zainab radhiallahu ‘anha masih pula tertahan untuk bertolak ke bumi hijrah.

Ramadhan tahun kedua setelah hijrah, terukir peristiwa Badr. Dalam pertempuran itu, terbunuh tujuh puluh orang dari pihak musyrikin dan tertawan tujuh puluh orang dari mereka. Di antara tawanan itu ada Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’.

Penduduk Makkah pun mengirim tebusan untuk membebaskan para tawanan. Terselip di antara harta tebusan itu seuntai kalung milik Zainab radhiallahu ‘anha untuk kebebasan suaminya. Ketika melihat kalung itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkenang pada Khadijah radhiallahu ‘anha yang telah tiada. Betapa terharu hati beliau mengingat putri yang dicintainya. Lalu beliau berkata pada para shahabat, “Apabila kalian bersedia membebaskan tawanan yang ditebus oleh Zainab dan mengembalikan harta tebusan yang dia berikan, lakukanlah hal itu.” Para shahabat pun menjawab, “Baiklah, wahai Rasulullah!”

Kemudian mereka lepaskan Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ dan mengembalikan seuntai kalung Zainab yang dijadikan harta tebusan itu.

Ketika itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta Abul ‘Ash untuk berjanji agar membiarkan Zainab pergi meninggalkan negeri Makkah menuju Madinah. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu bersama salah seorang Anshar sembari berkata, “Pergilah kalian ke perkampungan Ya’juj sampai bertemu dengan Zainab, lalu bawalah dia kemari.”

Berpisahlah Zainab bintu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas jalan Islam, meninggalkan suaminya yang masih berkubang dalam kesyirikan.

Menjelang peristiwa Fathu Makkah, Abul ‘Ash keluar dari negeri Makkah bersama rombongan dagang membawa barang-barang dagangan milik penduduk Makkah menuju Syam. Dalam perjalanannya, rombongan itu bertemu dengan seratus tujuhpuluh orang pasukan Zaid bin Haritsah yang diutus oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghadang rombongan dagang itu. Pasukan muslimin pun berhasil menawan mereka dan mengambil harta yang dibawa oleh rombongan musyrikin itu, namun Abul ‘Ash berhasil meloloskan diri.

Ketika gelap malam merambah, Abul ‘Ash dengan diam-diam menemui istrinya, Zainab bintu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk meminta perlindungan.

Subuh tiba. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat berdiri menunaikan Shalat Shubuh. Saat itu, Zainab radhiallahu ‘anha berseru dengan suara lantang, “Wahai kaum muslimin, sesungguhnya aku telah memberikan perlindungan kepada Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’!”

Usai shalat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap pada para shahabat sembari bertanya, “Kalian mendengar apa yang aku dengar?” “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi, “Sesungguhnya aku tidak mengetahui apa pun sampai aku mendengar apa yang baru saja kalian dengar.”

Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui putrinya dan berpesan, “Wahai putriku, muliakanlah dia, namun jangan sekali-kali dia mendekatimu karena dirimu tidak halal baginya.” Zainab radhiallahu ‘anha menjawab, “Sesungguhnya dia datang semata untuk mencari hartanya.”

Setelah itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan pasukan Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu dan berkata pada mereka, “Sesungguhnya Abul ‘Ash termasuk keluarga kami sebagaimana kalian ketahui, dan kalian telah mengambil hartanya sebagai fai’ yang diberikan Allah kepada kalian. Namun aku ingin kalian berbuat kebaikan dan mengembalikan harta itu kepadanya. Akan tetapi kalau kalian enggan, maka kalian lebih berhak atas harta itu.” Para shahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, kami akan kembalikan harta itu padanya.”

Seluruh harta yang dibawa Abul ‘Ash kembali ke tangannya dan tidak berkurang sedikit pun. Segera dia membawa harta itu kembali ke Makkah dan mengembalikan setiap harta titipan penduduk Makkah pada pemiliknya. Lalu dia bertanya, “Apakah masih ada di antara kalian yang belum mengambil kembali hartanya?” Mereka menjawab, “Semoga Allah memberikan balasan yang baik padamu. Engkau benar-benar seorang yang mulia dan memenuhi janji.” Abul ‘Ash pun kemudian menegaskan, “Sesungguhnya aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya! Demi Allah, tidak ada yang menahanku untuk masuk Islam saat itu, kecuali aku khawatir kalian menyangka bahwa aku memakan harta kalian. Sekarang setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala tunaikan harta itu kepada kalian masing-masing, aku masuk Islam.” Abul ‘Ash bergegas meninggalkan Makkah, hingga bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan Islam.

Enam tahun bukanlah rentang waktu yang sebentar. Akhir penantian yang sekian lama pun menjelang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengembalikan putri tercintanya, Zainab radhiallahu ‘anhu kepada suaminya, Abul ‘Ash bin Ar- Rabi’ radhiallahu ‘anhu, dengan nikahnya yang dulu dan tanpa menunaikan kembali maharnya. Dua insan kini bersama meniti jalan mereka …

Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan taqdir-Nya. Tak lama setelah pertemuan itu, Zainab bintu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke hadapan Rabb-nya, pada tahun kedelapan setelah hijrah, meninggalkan kekasihnya untuk selamanya.

Di antara para shahabiyyah yang memandikan jenazahnya, ada Ummu ‘Athiyyah Al-Anshariyah radhiallahu ‘anha. Darinya terpapar kisah dimandikannya jenazah Zainab radhiallahu ‘anha, sesuai perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan guyuran air bercampur daun bidara. Seusai itu, rambut Zainab radhiallahu ‘anha dijalin menjadi tiga jalinan. Jenazahnya dibungkus dengan kain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Putri pemimpin para nabi itu telah pergi…

Sumber :
- Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (4/1701-1704,1853-1854)
- Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’d (8/30-35)
- Mukhtashar Sirah Ar-Rasul, karya Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab (hal. 110-117)
- Shahih As-Sirah An-Nabawiyah, karya Ibrahim Al-‘Ali (hal. 192)

http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatkisah&id=216
- Siyar A’lamin Nubala, karya Al-Imam Adz-Dzahabi (2/246-250),
Dinukil dari : Biografi Ahlul Hadits

Saturday, May 15, 2010

Melihat Semula Peta Perjalanan Hidupku.

hm... Macammana nak mulakan tulisan kali ni..
Sudah lama rsanya tak update blog ni, banyak perkara penting yg berlalu tanpa sempat tercoret di sini. Mungkin kerana kurangnya muhasabah. InsyaAllah..kali ini aku hati ini rasa terjentik untuk menulis untuk merenung semula pencapaian diri.

Hari berlalu tak terasa status sebagai seorang remaja akan bertukar kepada seorang wanita yang lebih banyak taklifannya.. Sesekali, dalam ralit melayan hidangan dunia, hati tersentak memikirkan adakah aku masih dalam laluan yang sama, laluan yang aku pernah rancang dengan teliti suatu masa dulu..peta hidupku.

Peta hidupku.. telah beberapa kali aku menukar 'kanvas' untuk memperbaharui lukisan peta hidupku, kerana telah berlaku beberapa kesilapan silam yang disedarkan oleh Allah, mujur aku masih diberi peluang saat itu. Lakaran jalan hidup yang salah itu Allah tunjuk dengan 'sirat mustaqim'nya.. dan lakaran yang diperbaharui itu, hingga saat ini hanya perlu diusahakan untuk direalisasikan..

Namun, apabila melihat semula lakaran itu hari ini, aku jadi bingung. Mampukah aku merealisasikan matlamat itu?...

Graf... ya graf pencapaian dari target ilmu-ilmu yang ingin aku pelajari dgn usahaku sendiri, apa sudah jadi?...tergendala. Buku-buku yang telah aku beli dan kumpul sejak dulu tak mampu ku hadam mengikut perancangan yg telah dibuat. Usahkan buku2 hard cover yang punya 500 halaman , makalah sesimple brochure pun aku tak mampu baca.
Apa jadi dengan kajian metafizika Al-Attas, apa jadi kajian pendidikan Al Ghazali dan Ibnu Khaldun, apa jadi dengan 1 semester utk mentelaah satu bidang ilmu.. apa jadi dengan pengajian pondok dan ilmu2 makrifah? apa jadi...

Aku sedar.. jika semua ni aku tak mampu kaut semula, aku takkan temukan impianku. Mendalami ilmuNya di tanah anbiya' itu hanya akan jadi angan-angan.Sujud dengan tenang di dalam masjidil haram pada masa2 lapangku itu hanya angan-angan. Memiliki kitab2 tebal karangan imam-imam itu hanya angan-angan.. Berjuang bersama suami tercinta, berkorban dan terkorban di jalanNya itu juga mungkin menjadi angan-angan..


Mengapa...

Mutabaahku? MasyaAllah.. buku mutabaahku sudah lama hilang.
Buku zikir hadiah tn guruku dr Baitul Qurra'.. entah dimana. mungkin terselit di dalam mana-mana folder akademikku dan sudah tentu, aku masih belum hafaz zikir2 itu. Amalan zikir maghrib isya'ku dan istiqamah?.. usah ditanya.
Hafazanku? MasyaAllah..
Rasa muraqabahku?... Astaghfirullah..

Melihat kembali apa yang aku perolehi hari ini membuatkan aku sering tertanya-tanya. Masih selarikah tindakan dan perancanganku?.. Apa yang aku peroleh hari ini pula adalah anugerah Allah yang tidak pernah tersenarai dalam peta hidupku. Anugerah tetap anugerah dan aku tetap mensyukuri kurnia Allah ini. Ia adalah rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.tetapi aku tetap merasakan ada sesuatu yang perlu diselesaikan untuk merealisasikan impianku.

Tapi aku masih kabur.. adakah aku perlu memperbaharui semula lukisan peta hidupku. Atau adakah aku perlu mengorbankan impianku kerana melihatkan usahaku hingga hari ini semakin lumpuh.. mungkin benar impianku itu hanya angan-angan.

Oh... dimana titiknya yang harus aku mulakan.. bagaimana harus aku perbaharui?..
Berikan aku kekuatan Ya Allah

Dan Allah punya perancangan yang lebih baik untukku.. Hingga saat ini, aku sedar Allah sering memerhatikan aku,azam-azamku,dan usaha-usahaku. Malu dan malu.

Aduhai... fikir dan fikir.

sesekali terfikir, mengapa tulis semua ni di blog? tak malukah dengan pembaca?
Tidak.. terpulanglan dengan apa sahaja tanggapan kalian kerana malu kpd kalian tidak bermakna lagi.. Yang penting ialah aku mampu menatap tulisan ini setiap kali aku membacanya, aku akan terus berfikir dan berfikir. Mungkin kerana lintasan hati ini hanya hadir pada ketika ini dan aku tidak mahu melupakan saat ini. Mungkin jika kalian bersimpati, selitlah namaku dalam doa kalian, mudah-mudahan dengan dengan berkat yg ada pada diri kalian itu mampu menaikkan nama dan permohonanku di sisi Allah.

Allahumma a i'nni ala dhikrika wa syukrika wa husni i'badatik. Ameen.. (T_T)

Friday, April 16, 2010

Satu Lagi Kubu Tarbiyyah Para Jundiy

Kenalilah.. SMU (A) Maahad Darul Anuar, - Sekolah Tuan Guru Nik Abdul Aziz, Kelantan.


Saturday, April 3, 2010

Mujahidah, lakar langkah fi sabilillahmu

Tidakkah engkau merasakan kasih sayang dan keprihatinan Allah terhadapmu..

Pelbagai duka kau harungi..

Hampar tergugah keyakinanmu..

Dan engkau berlalu kecewa

Namun

Allah menyapamu dengan kasih sayang

Dengan kelembutannya dia memujukmu

Dan menghadiahkanmu sebuah hadiah

Yang tidak terjangka olehmu

Kini engkau tersenyum

Mengalir air mata

Tangisan kali ini

Kerana terharu dengan layanan Khaliqmu

Kini,

Berjanjilah...berjanjilah..berjanjilah

Bahawa engkau akan mengasah diri segilap mungkin

Menjadi mujahidah ulung

Hamba yang menyahut seruan Khaliqnya sepenuh masa

Menjadi sayap kiri kepadanya

Kekal terpilih sebagai bidadarinya di jannah abadi

Menjadi ibu yang murabbi kepada zuriat ahlul jannah

Supaya keturunan jundullah itu

Bisa menjadi satu angkatan

Yang bisa terus berjuang

Fi sabilillah.

Terima Kasih Allah, Alhamdulillah.

Ya Khaliqku, jika ini ketentuannya, Aku Redho..

Maka permudahkanlah...permudahkanlah...permudahkanlah.

Dengan kekuasaaMu yang tiada tara wahai yang Maha Agung

Kun Fa Yakun,

Maka, permudahkanlah

dan

Redhoilah kami.

Dalam melakar langkah fisabilillahmu bersama.


hanisah

3 April 2010

Sunday, February 28, 2010

A.Q.I.L.A.H

Teringat kisah 20 tahun yang lampau,awal tahun 1993 merupakan tahun pertama kali aku menjejejakkan kaki ke sekolah secara rasmi . Tahun 1 Merah. Itulah nama kelasku. Masih terdapat beberapa kisah yang masih segar dalam benak fikirku hingga kini. Banyak persoalan yang terjawab tentang apa yang aku lakukan sekarang jika aku meneliti pengalaman aku sebagai kanak-kanak sekolah rendah suatu masa dulu…hatta, aku sendiri tidak menyedari bagaimana aku mampu mengeja namaku sendiri sekaligus melenyapkan fobiaku pada guru-guru yang suka marah-marah jika aku tidak dapat menulis nama pada lembaran kerja yang mereka edarkan. Kini aku mengerti…

Februari 2010.

Aku berjalan memantau gerak kerja anak-anak didikku di tahun 1 Ibnu sina menyiapkan tugasan yang aku berikan. Tidak lama kemudian, beberapa orang murid (terkedek-kedek dengan comelnya) datang ke meja guru menyerahkan tugasan yang telah disiapkan.. aku menyemak tugasannya. Aku menelitinya. Tulisan yang kekok tapi lengkap. Susunan yang agak tunggang terbalik tapi penuh. aku tandangan, tulis tarikh dan, 3 bintang ditandakan di sisi helaian lembaran kerja tersebut. Tapi.. tugasannya kekurangan sesuatu. Nama.

“ Aqilah, lupe tulis nama ke…?” aku membesarkan mata, mendekatkan mukaku ke mukanya dan cuba menggayakan seperti seorang kanak-kanak yang keliru, dan senyum.

Aqilah senyap.

“ok…aqilah buat molek dah ni. Ustazah bagi 3 bintang doh. Tapi… macammane ustazah nak bagi hadiah nanti kalu ustazah tak ingat nama..Aqilah tak tulis nama ni…”

Aqilah senyap.

“ ok, aqilah gi duduk, tulis nama dulu deh..”

Aqilah tak bercakap walau sepatah. Perlahan-lahan dia mengambil semula kertas di tanganku dan kembali ke tempat duduknya.

Aku meneruskan kerja menyemak murid-murid lain. Tidak lama kemudian aku lihat Aqilah beratur semula menunggu giliran untuk disemak tugasannya. Sampai gilirannya, aku memeriksa bahagian ruang nama. Kosong. Tiada nama.

“Aqilah, kenapa tak tulis nama sayang?..bukanke ustazah suruh tulis tadi.. “ Aku pelik.

Aku memandang mata aqilah dengan tepat. Kelihatan matanya digenangi air. Muka sebek. Dia mula menitiskan air mata.

“ saya tak pandai tulis nama” Aqilah berkata kepadaku dalam loghatnya sambil mengesat pipinya dengan hujung lengan bajunya.

Hati aku tersentuh, teringatkan kisah silam. Aqilah ini adalah aku pada 17 tahun yang lampau. Namun nasibnya jauh lebih baik.

Aku senyum kepadanya

“Hm..aqilah boleh tolong ustazah tak, ambilkan kerusi di hujung sana tu? Ambil dan bawa ke sini, boleh?” aku bertanya.

Aqilah tanpa sempat menghabiskan anggukannya bergegas kearah kerusi yang aku tunjuk dan mengheretnya ke sisiku.

“ok..terima kasih..! duduk aqilah” Aqilah tanpa banyak bicara duduk di sisiku di atas kerusi yang diseretnya sebentar tadi.

Aku menyediakan satu kertas lain untuk menulis sesuatu di atasnya.

A.Q.I.L.A.H

Satu nama tercoret di atas kertas tersebut. Aku mengajarnya mengeja nama tersebut sehingga dia mampu.Tidak semudah itu dia memahami huruf sepertimana kanak-kanak lain memahaminya. Maka aku mereka satu cerita.

“al kisah…Pada suatu hari, ada huruf A berlari-lari mencari kawannya huruf Q di dalam sebuah taman, kemudian bila sudah jumpa, mereka berjalan bersama-sama . Tiba-tiba, mereka terserempak dengan huruf I yang sedang digigit oleh ikan. Huruf A dan huruf Q menolong huruf I melepaskan dirinya dari gigitan ikan tersebut. Ikan itu mengganas, dia mahu memakan huruf A dan huruf Q pula, tiba-tiba datang sebatang lampu jalan yang berbentuk L memancarkan cahayanya yang ajaib kearah ikan tersebut. Lampu jalan itu ingin menolong mereka. Lantas, apabila ikan tersebut terkena cahaya lampu jalan itu, ikan tersebut menjadi lemah dan mengecil, maka selamatlah huruf A, Q dan I. lampu jalan berbentuk L itu menjadi sahabat mereka. Kemudian mereka meneruskan perjalanan mereka sehinggalah mereka terjumpa kembar A. Kembar A itu sedang bermain jongkang jongkit bersama huruf H…Mereka berkumpul dan jadilah mereka sahabat baik 6 sekawan”

Aqilah tergelak kecil. Tangannya menunjuk kearah lampu jalan yang aku lukis di atas kertas tersebut.

“ comel tak lampu ni?”aku menyambut tawanya.

Aqilah mengangguk.

“ sekarang, cuba aqilah sebut, siapakah kawan-kawan huruf A?” Aku memintanya menyebutnya mengikut turutan.

Aqilah menyebutnya satu –persatu berdasarkan lukisan dengan jalan cerita yang aku lukis. Kemudian aku memintanya menulis huruf-huruf yang terbentuk.

Lengkap. Aqilah berjaya menulis 6 huruf namanya tanpa meniru .

Di sisiku, Aku meminta dia menyalin semula namanya sebanyak 10 kali sementara aku menyemak tugasan kanak-kanak lain. Aku puas hati, sekurang-kurangnya aku dapat merasakan seperti hanisah 17 tahun lampau terubat dan tersenyum dengan bimbingan itu. Jika diberi pilihan, itulah yang aku mahukan 17 tahun dulu. Perhatian, Kasih sayang, belaian itu mampu menjadi bukti dorongan yang kuat untuk berjaya bagi kanak-kanak. Walaubagaimanapun,jika aku berkesempatan berjumpa dengan guruku yang telah mengajarku dengan pendekatan Gestalt( marah dan ancaman), aku tetap jadi pandai kerana itu. Walau apapun, terima kasih cikgu, sayang dan marah cikgu adalah pemula segala…

Saturday, January 23, 2010

Surat kepada Guru

Wahai guruku...

Apa khabar dirimu guruku? Moga sihat hendaknya disisi Allah, moga keberkatan dan rahmatNya selalu tercurah untukmu. Saat jari ini menari lemah di pentas keybord usang ini, pendengaran ini terhibur dengan nasihat-nasihatmu yang sempat ku rakam semasa sesi kuliahmu di tanah berkah itu, tetapi guruku..ternyata hatiku begitu sayu.. sayu sekali. Hati ini kalah sekali pada hari ini, sebak di hati menggumpal kerana rindu, air mata ku tertitis jatuh kebumi, membasahinya, mudah-mudahan bumi juga menjadi saksi sesal dan rintih ini di hari pengadilan kelak..

Guruku...
Terkenang suatu masa di tanah berkah itu, hati ini padu dengan keyakinan, kerana melihatkan jatidirimu yang tegas membela deen ini.. Kuatnya dirimu terbias kepada setiap jiwa yang menghadirkan diri menerima nasihatmu..Lantas pada suatu saat di tanah berkah itu, diriku cuba melihat apa yang akan terjadi pada hari ini. Adakah keyakinanku akan tergugah dek biah yang alpa nanti? diriku telah menjangka apa yang akan berkalu pada hari ini, dan diriku telah cuba melengkapkan segala kekuatan untuk membenteng mehnah hari ini. ternyata benteng itu rapuh..Ternyata hari ini, diriku lemah sekali...

Guruku...
Ternyata duniaku kini seolah-olah berjaya menipuku.. seolah-olah dunia ini berjaya meletihkanku dengan taklifan-taklifan yang tidak ku fahami fungsinya di sisi deen ini. Guruku, bagaimanakah ini... bagaimanakah aku mampu mempertahankan rutin iman di hati ini sedangkan tuntutan dunia sedang mengasak dan melanyak hebat haqq-haqq iman itu.. ditambah pula dengan ketidakselarian fikrah insan-insan di sekelilingku..

Guruku...
Masih diri ini mahu memegang erat janjiku terhadapmu dan terhadap diriku bahawa..aku akan menjauhi DAJJAL itu..benar katamu, ia sungguh dajjal! Dia berjaya membodohkan sahabat-sahabatku..diri ini menyaksikannya guruku, tetapi..diri ini tidak berjaya menyekatnya.. diri ini telah mencuba tetapi dicemuh seluruhnya.. sehinggakan diri ini lemah kerana diri ini dikelilingi mereka.. diri ini gagal bertahan lebih lama, dan hari ini diri ini hanya berjaya mengasingkan diri untuk mengelakkan pengaruhnya... bagaimana ini guruku.. diri ini ditaklif mereka sebagai amirah tetapi tidak dibenarkan melaksanakan tugas seorang amirah.. fahamkah mereka apa yang mereka mahukan? Apakah soal halal dan haram itu di luar tanggungjawab taklifan ini?Guruku, diri ini tidak pandai mentarjih hukum dalam situasi ini...diri ini letih memikirkannya, diri ini letih memikirkan samada masih validkah statusku di sisi Yang Maha Mengadili..

Lakar wajahku sentiasa tersenyum buat mereka, riak gerakku sentiasa ceria menyapa mereka..tetapi diri ini yakin, yakin bahawa tiada siapa yang boleh mengesan derita di hati, kerana keyakinan pada diri ini dalam satu perkara amat tinggi, apakah itu? itulah keyakinan bahawa diri ini tahu dan bijak berlakon bermanis muka saat hati renyuk, hampa dan menangis hiba..tiada siapa akan tahu.

Guruku...
Diri ini sedar, segalanya sedang terhakis.. sedikit demi sedikit. Kebodohan kesibukan ini amat ku benci. Sesekali hati ini mengharap ada hati-hati yang sudi memahami derita hati ini, tapi hampa.. mereka semua hanya bergembira. Mereka punya masa lapang yang banyak, tapi mereka bergembira dengan hidangan dunia. Apabila mereka sibuk,mereka tetap bergembira dengan hidangan dunia, sedangkan hati yang derita ini berhempas pulas melaksanakan tanggungjawabNya dan sekaligus terpaksa melayan tuntutan dunia yang mengada-ngada..Dan diri ini sungguh pelik guruku, bahawa mereka sering pula risau pada perkara yang tidak memberi makna..

Guruku...
Siapalah yang dapat hadir mengubat rindu ini untuk kembali ke tanah berkah itu,menghadirkan hati dan jasad ini sekaligus meraih dan merintih untuk redhonya dengan penuh ketenangan... Guruku, diri ini tidak pasti bilakah Izzah Islam akan terpancar di tanah yang berdirinya dajjal-dajjal ini. sungguh diri ini tersepit kerana senjata dajjal itu begitu berbisa. Hati ini makin lemah...

Guruku..
Hati ini tidaklah tajam seperti hati yang tuan guru miliki.. hatimu guru mampu mengenal jiwa tulus dan jiwa penipu.. Hati yang kabur ini sering tergapai-gapai mencari hati yang tulus.. yang mampu bersama denganku, dan dengannya, diri ini mampu berdiri dan bertahan lama..

Guruku...
Tidak mustahil diri ini akan menolak semuanya yang diri ini miliki hari ini termasuklah peluang-peluang yang masih dapat ku bezakan dari bencana.. Kerjayaku, gerak kerjaku, kawan-kawanku, kampusku, dan title "cikgu" ,Tidak mustahil kerana diri ini begitu bercelaru fikiranku dan imanku.. Guruku, diri ini perlukan nasihat, teman, kekuatan... Ajarkan diri ini cara-cara termakbulnya doaku, duhai guruku...

Guruku, sampai di sini sahaja. Ku mohon secebis tadahan doamu buat kesejahteraan dan kekuatanku.. Ku mohon doakan kasih-sayang Allah dan redhoNya selalu tercurah untukku... agar diri ini masih kuat untuk bersabar dengan semua ini... Guruku, diri ini selalu mendoakan impianmu untuk melahirkan ulama' besar suatu hari nanti, perkhabaran dari petunjuk Habaib itu menjadi kenyataan agung kelak..diri ini sentiasa mengikuti khabar perjuanganmu guruku..

Friday, January 22, 2010

TRAINING PROGRAMME bersama CREATIVE SIFU



TRAINING PROGRAMME bersama CREATIVE SIFU
Bentuk program:
Interactive dan LDK

Tempoh masa:
2 hingga 3 jam bagi satu fasa

Fasa:
1- Creativity
2- Creativity Development
3- Editing

Di akhir program anda akan:

Sedar yang anda seorang yang kreatif
Berkeyakinan untuk membina modul sendiri
Rasa boleh menjadi seorang naqib yang cemerlang


Bayaran:
PERCUMA!

Bagaimana hendak menganjurkan training programme ini di kampus anda?

1- Cari tarikh dan masa yang sesuai (seeloknya hujung minggu)
2- Cari tempat yang sesuai yang mudah peserta dan pihak kami ke sana
3- Kumpulkan individu yang berminat untuk menyertai training programme ini. cadangan: buka kepda semua naqib/ individu yg terlibat dgn LDK, Kem Kepimpinan, Kem Ibadah, etc.
4- Hubungi dan maklumkan kepada kami
Kepada pelajar IPGKDRI yang berminat untuk menyertai program ini,
anda boleh hubungi saya:
Hanisah
No. Tel: 0148450270
PISMP PAI 2
IPGMKDRI

Thursday, January 14, 2010

Al Fatihah buat 2 Mujahid..

Telah tiba saat waktu kau tinggalkan kami
Kerana takdir yang Maha Esa telah menetapkan
Sedih rasanya hati ini bila mngenangkan
Kau sahabatku kau teman sejati

Tulus ikhlasmu luhur budimu bagai tiada pengganti
Senyum tawamu juga katamu menghiburkan kami
Memori indah kita bersama terus bersemadi
Kau sahabatku kau teman sejati

Sudah ditakdirkan kau pergi dulu
Di saat kau masih diperlukan
Tuhan lebih menyayangi dirimu
Ku pasrah diatas kehendak yang Esa

Ya Allah,tempatkannya di tempat yang mulia
Tempat yang kau janjikan nikmat untuk hamba Mu
Sahabatku akan ku teruskan perjuangan ini
Walau ku tahu kau tiada di sisi

Perjuangan kita masih jauh beribu batu
Selagi roh masih di jasad hidup diteruskan
Sedih rasa hati ini mengenangkan dikau
Bagai semalam kau bersama kami

Moga amanlah dan bahagia dikau di sana

Setangkai doa juga Fatehah terus kukirimkan

Moga di sana kau bersama para solehin
Kau sahabatku kau teman sejati





AL-FATIHAH kepada mereka yang telah kembali ke rahmatullah pada 11 Jan 2010 iaitu Ustaz Faizol dan Ustaz Fadhiri. Semoga rohmu ditempatkan bersama orang-orang yang soleh..


Allahyarham Ustaz Fadhiri



Allahyarham Ustaz Faizol

Klik sini utk berita kronologi kejadian kemalangan.....









Selamat Datang... Kita Mendidik Kerana Allah

Dengan nama Allah yang Maha pemurah lagi Maha Mengasihani…

Assalamualaikum wa rahmatullahhi wa barakatuhu.

Salam setulus hati buat para sahabat-sahabatku, para muaddib yang bersama-sama mengorak langkah dalam perjuangan. Kita semua adalah muaddib, pembentuk adab. Mengapa ana menekankan konotasi ‘AL-Muaddib di sini berbanding Al-Muallim, atau Al Mursyid? Kerana Al Muaddib ialah insan yang membentuk akhlak, satu konotasi yang membawa maksud terus kepada matlamat akhir (hadaf al a'liyy) bagi tugas seorang pendidik .












Inilah tugas seorang Da’e. Mendidik insan, memanusiakan. (berusaha membentuk manusia yang kembali kepada fitrahnya- tunduk dan patuh kepada RabbNya)
Sahabatku, setiap individu telah tercatat padanya tugas dan amanah masing-masing yang perlu dikemudikan dengan penuh kesabaran saban hari.





Apa tugas seorang manusia?

1) Sebagai hamba
2) Sebagai Khalifah
3) Sebagai Da’e





Sebagai hamba,hak-hak seorang hamba perlu dilakukan. Sebagai Khalifah, kewajipan kita ialah menunaikan amanah sebagai ‘seorang yang mengurus (mengikut kemampuan seorang hamba) dan sebagai da’e, kita mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran, mengajak manusia tunduk dan patuh pada Allah dengan penuh ketaqwaan.






Dan wahai AL Muaddib, tugas yang tertulis untuk kita adalah berjuang membentuk manusia yang berfungsi sebagai hamba, khalifah dan da’e yang baik. Itulah tugas kita dari satu sudut sebagai mata rantai perjuangan.






Menimba Ilmu, menjaga akhlak, menyalurkan ilmu, membentuk dan mendidik akhlak diri dan mad’u (anak-anak, khususnya kepada Muaddib yang akan berjuang di bidang pendidikan) bukanlah suatu usaha yang mudah.






Kesabaran, Istiqamah, kemahuan dan Azam, serta kesedaran tanggungjawab menjalankan amanah ini perlu dipastikan sentiasa segar buat jiwa, sesegar cinta kita pada perjuangan, jihad.. Ya, dalam konteks yang sama, jihad kita ialah untuk memanusiakan manusia.,Memastikan anak-anak ini mendapat tarbiyyah di peringkat awal supaya laluan mereka untuk menjadi jundiy yang berdiri teguh di saff tenteraNya menjadi mudah, ..InsyaAllah, Walau apapun, hanya Allah yang layak memudahkan segala urusan hambanya, milik Allahlah bagi setiap jiwa, ruh, jasad, niat dan usaha kita.







Wahai sahabat-sahabatku, diri yang penuh dhaif ini menyeru kita bersatu tega mempertahankan manhaj pendidikan yang benar, kaedah pendidikan asli yang diajarkan Rasullullah, menapis segala bentuk doktrin pendidikan orientalis, yahudi atau nasrani yang telah lama cuba mengucar-kacirkan sistem hidup dan pemikiran kita.




Sama-samalah kita berusaha menjernihkan anak-anak yang akan kita didik ini dengan kefahaman Islam yang sejati.






InsyaAllah… ikhlaskan niat tugas mendidik ini untuk Allah semata, pasakkan keyakinan bahawa kemenangan itu telah disediakan, yakin dengan janji-janjinya , suburkan kesabaran dalam menghadapi mehnah…




“Dari Sahabat Annas bin Malik r.a berkata, Rasulullah s.a.w bersabda, bahawa Allah Azza Wa Jalla berfirman:
Orang yang berjuang di jalan Allah, dia menjadi tanggunganku, jika aku memegangnya (mengambil nyawanya) aku wariskan syurga kepadanya. Dan jika aku mengembalikannya ( tidak mati dalam perjuangan), aku kembalikan dia dengan pahala atau ‘harta rampasan’(hasil)… “


( Hadith Sahih)